Disuruh Juri "Lepas Jilbab" saat Lomba Karate, Atlet Cilik ini Pilih Mundur dari Medan Tempur

Islamnesia.com, Magetan- Indonesia sedang latah konflik agama belakangan ini. Ada sedikit saja yang menyenggol isu agama, pastilah langsung naik pitam. Apapun hal menyangkut akidah, yang harusnya ditanamkan dalam sanubari, mendadak jadi barang konsumsi publik yang diperdagangkan murah.

Ini semua tak lepas dari ulah para provokator dan makar yang gerakannya lincah sekali, menyusup di mana-mana, terutama media. Mereka hobi membentuk common sense tentang pertikaian ummat, Ahok vs FPI, Kristen Vs Islam. Padahal kalau menilik realitas hidup sehari-hari, kehidupan rakyat di tingkat grass-root senyata-nyatanya, konflik macam ini rasanya benar-benar hoax. Masyarakat Indonesia itu sudah sejak dulu beragam agama dan mampu hidup berdampingan. Belakangan saja jadi memanas, karena ulah ormas dan aktor-aktor politik praktis yang berkepentingan.

Bolehlah kita memiliki pandangan positif demikian. Tapi sepertinya di tengah gonjang-ganjing turbulensi konflik seperti sekarang, kita tetap harus waspada pada tiap jenis ucapan maupun tindakan yang dapat memantik api pertikaian. Seperti seorang Juri Kejuaraan Karate Tingkat Provinsi Jawa Timur, yang belum diketahui namanya ini. Dia baru saja memantik api di kalangan ummat Islam pecinta dunia olahraga. Bagaimana tidak? Dia telah melakukan pelanggaran HAM kepada seorang peserta lomba karate bernama Auliya.



Juri ini meminta Auliya melepas jilbabnya sebelum bertanding. Di mana tindakannya ini dianggap sudah keterlaluan. Ini kompetisi tingkat provinsi loh, yang diadakan di GOR Magetan Jawa Timur, pada tanggal 23 Desember 2016. Padahal dalam kejuaraan karate tingkat nasional dan internasional pun peserta muslimah diperkenankan tetap berjilbab. "Tapi kok ini jurinya begitu?"



Fenomena ini mula-mula disiarkan oleh ustadz Janan Farisi, salah seorang guru dari Auliya. Ia berkata di Facebooknya seperti yang terurai di bawah ini:

HAMPIR AKU TAK PERCAYA SEDANG BERADA DI NEGERI MAYORITAS MUSLIM

Kemarin, 23 Desember 2016 menjadi hari yg sangat ditungu-tunggu oleh seorang santriwati dari Smpit Harapan Umat Ngawi.

Hari itu adalah hari kejuaraan Karate se-Jatim yang diselenggarakan di GOR Magetan. Auliya nama santriwati itu. Siang malam ia berlatih sekuat tenaga. 

Berangkat latihan pagi pagi sekali, lalu pulang menjelang dzuhur. Istirahat sejenak lalu pergi latihan lagi, dan baru kembali pulang jam setengah sembilan malam.

Setiap hari. Dia berharap, tanggal 23 kemarin bisa menjadi sejarah yang akan mengukir namanya dalam jajaran juara Karate. Namun saat hari itu tiba, saat ia sudah siap bertanding dengan seragam karate gagahnya, seorang juri menyuruhnya melepas JILBAB nya. Ia tak dibolehkan mengikuti pertandingan dengan jilbabnya.


Tersentaklah ia. Bergejolak  pertandingan yang sangat hebat dalam hatinya. Bertanding mengejar mimpi atau mempertahankan JILBAB nya, izzah ke-Islaman nya...Latihan gigihnya selama ini... Impiannya... Akankah menguap begitu saja...

Peserta yang lain, yang sebelumnya berjilbab, mulai melepas JILBAB nya satu persatu... Tapi anak itu....Perlahan, dengan air mata menggenang di pelupuk, ia melangkah meninggalkan arena pertandingan.

Ia telah memenangkan pertandingannya, pertandingan mempertahankan izzatul Islam....Aku yang merekam semua itu dengan mata kepalaku, hampir tak percaya.

Sebelumnya aku hanya mendengar seperti ini dari berita. Tp kali ini, hadir dengan nyata di depan mata. Ini negeri mayoritas Muslim! Ada apa dengan JILBAB?Kawan2... Yang beramanah menjadi Pendidik...

Mari tanamkan IZZAH ISLAM sedalam dalamnya dalam hati anak2 kita. Hingga esok lagi, tak ada lagi seorang muslim yang menjual IZZAH nya demi sekeping medali....

#auliyahebat
#smpitharumjuara
loading...