Rencana Membenturkan NU Dengan Ahok Gagal Total Karena Alasan Ini

Islamnesia.com - Hampir saja mereka bersorak gembira. Momentum persidangan Ahok yang Ke-8 mungkin akan menjadi alasan bagi mereka menggelar “Aksi Bela Ulama.” Sebuah judul yang tak kalah menggemparkannya setelah mereka merasa berhasil menggelar “Aksi Bela Islam” beberapa waktu lalu.
Sayangnya, rencana mereka gagal total. Terbukti simpati mereka kepada KH.Ma’ruf Amin, selaku Ketua MUI dan Rais Aam PBNU tidaklah tulus. Mereka memiliki agenda di belakangnya, yakni upaya membenturkan Jamaah NU dengan para pendukung Ahok. Dan kalangan Nahdliyin bisa mengendusnya dengan cepat. Apa yang sesungguhnya membuyarkan rencana mereka ? Berikut hasil analisa penulis mengenai peristiwa ini :

Pertama, Nahdlatul Ulama (NU) bukanlah organisasi yang lahir kemarin sore. Ia adalah organisasi yang telah makan “asam garam.” Usianya lebih tua ketimbang Republik ini dan memiliki tingkat kematangan serta kedewasaan yang cukup untuk menganalisa peristiwa-peristiwa yang tengah terjadi di negara ini. Dengan seabrek pengalaman yang dimilikinya, upaya-upaya menggiring NU dan jamaahnya ke dalam syahwat politik praktis dan pragmatis tidak akan berhasil.

Kedua, adalah ketokohan di NU. Tanpa mengecilkan ulama-ulama lain dalam jajaran kepengurusan NU. Tokoh Hasyim Asy’ari dan Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur adalah sosok-sosok yang memberikan warna kuat dalam NU hingga kini. Dan mereka pantas dijuluki sebagai perwujudan dari “Islam Nusantara.” Islam yang bercirikan Ke-Indonesiaan yang penuh toleran, tenggang rasa dan moderat. Tokoh-tokoh senior dalam NU ini juga menularkan energi positifnya kepada generasi muda NU hingga kini. Oleh karena itu, kita menemukan banyak bibit-bibit muda NU yang mempunyai pandangan serupa dengan para seniornya seperti KH.Hasyim Asyari dan Gus Dur. Dengan hadirnya tokoh-tokoh ini, upaya mengajak NU ke dalam gerakan-gerakan radikal tak bakalan laku.

Baca juga:
Ketiga, ruh NKRI dijiwai oleh NU. Nasionalisme NU dan para jamaahnya terhadap NKRI tidak perlu diragukan lagi. Tokoh-tokoh NU awal adalah juga “Founding Fathers” bangsa ini. Kedekatan tokoh-tokoh NU dengan tokoh-tokoh nasionalis, seperti Bung Karno terekam baik dalam catatan-catatan sejarah. Watak Nasionalisme yang menjadi fondasi utama pendirian NU bertemu dengan nasionalisme yang mendarah daging dalam diri Bung Karno. Itulah sebabnya, pada Muktamar NU XV yang dilaksanakan pada tahun 1940 di Surabaya dalam pembahasan tentang siapa figur yang paling pantas menjadi Presiden bila Indonesia meraih kemerdekaan, 10 dari 11 Kiai senior yang terlibat dalam musyawarah itu memilih Bung Karno  (dalam Amir, Saleh, 2013:ix). Oleh karenanya, mencoba mengajak NU dalam aksi-aksi yang merongrong kewibawaan negara dan merusak bangsa ini akan berhadapan secara langsung dengan NU dan para tokohnya.

Keempat, orang atau kelompok yang beberapa hari ini “seakan-akan membela KH.Ma’ruf Amin, membela NU” adalah orang-orang atau pihak-pihak yang justru sering memaki NU selama ini. Untuk mengujinya mudah saja. Bagaimana sikap mereka terhadap hinaan serta cacian kepada sosok Gus Dur, Gus Mus, dan KH.Aqil Siradj ? Apakah mereka se-reaktif itu seperti respon mereka terhadap sikap Ahok dalam persidangan ? Tentu saja tidak. Mereka cenderung diam. Bahkan bukan diam, karena mereka sendirilah sesungguhnya yang sering melontarkan ejekan dan cacian kepada tokoh-tokoh yang disebutkan tadi. Dengan demikian, pembelaan mereka cepat terendus bahwa itu tidak tulus melainkan ibarat pepatah “ada udang di balik batu” yakni bertujuan membenturkan Ahok dengan jamaah NU.

Kelima, cepatnya Ahok meminta maaf kepada KH.Ma’ruf Amin adalah tindakan yang patut diapresiasi. Begitu pula kecepatan KH.Ma’ruf Amin memaafkan kekhilafan Ahok mencerminkan kebesaran hati tokoh-tokoh NU. Lagipula, antara Ahok dan NU sudah terjalin kedekatan, salah satunya adalah kedekatan Ahok dengan sosok idolanya, Gus Dur.

Dengan kenyatan-kenyataan ini, upaya membenturkan NU dengan Ahok bisa dikatakan gagal. Catatan yang mesti dan harus diingat, kasus ini bukanlah kasus terakhir. Ibaratnya “test the water.” Mereka tidak akan pernah berhenti berusaha sampai tujuannya tercapai. Oleh karena itu, tetap waspada!

Sumber: https://seword.com/politik/rencana-membenturkan-nu-dengan-ahok-gagal-total-karena-alasan-ini/
loading...